PENJAHAT IBUKOTA

Penjahat
Suatu hari, ada seorang pria muda dengan tubuh kekar di sudut kota Jakarta. Namun, ia lemah karena belum makan seharian. Ia lapar. Ia sangat lapar. Setiap hari ia hanya duduk di atas trotoar ibu kota dan menjulurkan tangannya kepada setiap mereka yang lewat.

Pria dengan tubuh kekar itu mengemis dan mengulang lagu sedih dari kekalahan hidupnya di masa lampau. Sedangkan kini ia masih saja menderita lapar pada perutnya dan malu pada perasaanya.

Ketika malam datang, bibir dan lidahnya pecah-pecah, sementara tangannya masih kosong sama seperti perutnya.

Ia bangkit dan keluar dari kota, kemudian duduk di bawah sebatang pohon dan menangis. Lalu ia menengadah untuk menatap ke langit, sementara rasa lapar terus menggerogoti tubuhnya, dan ia berkata, 

"Oh Tuhan, aku pergi kepada seorang lelaki kaya di sudut ibukota untuk meminta pekerjaan, namun ia memalingkan muka karena kegembelanku. Aku mengetuk sebuah pintu sekolah, namun dilarang masuk karena aku tidak memiliki apa-apa. Aku mencari pekerjaan yang akan memberiku sesuap nasi, tapi semuanya tidak berhasil. Dalam keputusasaanku akhirnya aku mengemis, namun mereka melihatku dan berkata, "Ia malas, dan seharusnya ia tidak mengemis." Oh Tuhan, inikah kehendakmu sejak aku dilahirkan di ibukota, dan kini dunia telah menawarkanku kembali padamu."

Ekspresi wajahnya lalu berubah. Ia bangkit dan matanya kini berbinar, berisi penuh kepastian. Ia mengambil tongkat besi dari sisa bangunan, dan menunjuk ke arah kota Jakarta. Ia berteriak,

"Aku meminta sesuap nasi dengan seluruh kekuatan suaraku namun ditolak. Kini aku akan mengambilnya paksa dengan kekuatan dari ototku! Aku ingin nasi atas nama berkah dan cinta, namun manusia meremehkannya tanpa rasa peduli. Aku akan mengambilnya atas nama kejahatan dan rasa benci."

Tahun-tahun berlalu dan si pemuda itu menjadi perampok, pembunuh dan penghancur jiwa. Ia menginjak semua orang yang mencoba melawannya. Ia mendapatkan harta berlimpah yang ia menangkan atas kekuatannya. Ia dikagumi oleh teman-temannya, diirikan oleh pencuri-pencuri lain, dan ditakuti oleh masyarakat Jakarta.

Kekayaan dan kekuatannya membuatnya memiliki kekuasaan atas ibukota. Proses menyedihkan yang dilakukan oleh pemimpin yang tidak bijaksana. Pencurian lalu seperti dilegalisasikan, menginjak yang lemah menjadi hal yang biasa, kejahatan dilakukan dan dipuja.

Sentuhan pertama keegoisan manusia telah membuat penjahat yang sederhana, dan pembunuh dari kedamaian. Ketamakan manusia telah tumbuh dan menyerang manusia. 

Perasaan dendam pun tercipta dimana-mana. Siklus menyakitkan yang tak akan pernah berhenti, berawal dari keegoisan manusia itu sendiri.

Kejahatan lahir dari manusia itu sendiri.

"Kejahatan lahir dari dendam yang dibawa manusia sendiri. Semakin besar dendam yang dibuat, semakin besar pula kejahatan yang akan kembali." 
 - Ficky Septian Ali -

Postingan terkait: