KISAH PENJUAL ROTI BUTA DAN PEREMPUAN YANG SELALU DISINYA


Sebenarnya kisah ini adalah kenyataan yang membuatku terharu sejak pertama kali bekerja di Yogyakarta. 

Kenyataan itu datang dari seorang pria buta separuh baya yang menjajakan roti. Tangannya membopong dua wadah besar penuh dengan roti. Pada wadah besar itu tertulis 'ROTI 1500'. Ia terlihat seperti seorang yang setiap harinya berharap daganganya habis terjual.

Aku sedang terburu-buru saat itu. Lalu entah mengapa ketika aku sudah sampai di kantor, perasaanku penuh dengan rasa bersalah karena tidak membeli roti itu.

Kemudian aku putuskan kembali ke jalan tempat aku bertemu pria tadi. Namun, ia sudah tidak berada disana menjajakan roti yang dijualnya. Aku mungkin harus mencoba bertemu lagi hari esok.

Keesokan harinya aku tidak bertemu dengan penjual roti yang aku cari. Hari berganti demi hari, namun masih saja aku tidak bertemu dengan pria separuh baya itu. Aku benar-benar penasaran mengenai roti yang dijualnya.

Aku pernah memutuskan untuk duduk diam sejenak di tempatnya berjualan saat pertama kali aku lihat. Suasanya tidak terlalu nyaman. Udara yang aku hirup pun tidak seenak tempat tinggalku di daerah Banguntapan yang masih asri.

Namun ada satu harapan yang aku lihat. Seorang calon pembeli. Mahasiswa yang berlalu lalang. Mungkin keramaianlah yang membuat pria buta itu menjajakan rotinya disini. Hari ini sepi. Jalanan juga sepi. Aku harus mengerti pada pukul berapa jalanan ini ramai.

Aku masih berdiam diri disini. Menyalakan sebatang rokok yang bahkan aku lupa cara menikmatinya.

Perutku lapar.

Aku melihat ke arah langit yang sedikit mendung. Tapi jalanan terasa semakin ramai saja.

Aku merasakan sedikit rintih hujan yang memaksaku untuk segera pulang.

Aku segera menyalakan motorku.

Namun ketika hati ini hendak aku bawa pulang, seseorang yang aku nanti datang di tengah-tengah rintik hujan. Tanpa setangkai payung yang melindunginya dari rintik hujan yang dingin.

Awalnya aku tidak mengerti apa yang membuat pria buta itu begitu kuat menghadapi pahitnya hidup. Tetapi aku akhirnya mengerti ketika melihat seorang perempuan yang sedang menuntunnya berjalan disisinya.

Tuhan begitu baik.

Menciptakan setiap makhluknya berpasang-pasangan.

Perempuan itu memang tidak sempurna. Tubuhnya (maaf) istimewa. Namun keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk setiap pasangan berlaku romantis.

Begitu pula dengan hujan. Malu rasanya hanya karena hujan aku hampir menyerah untuk bertemu pasangan penjual roti ini. Terima bapak dan ibu. Aku benar-benar malu ketika aku pernah menyerah dalam menjalani kehidupan.

Apa yang kalian perjuangkan lebih hebat dariku. Segala hal yang sedang kalian hadapi lebih sulit dariku. Namun aku tau satu hal. Meskipun kalian memiliki fisik yang tidak sempurna, namun keberadaan kalianlah yang saling melengkapi.

Aku mengerti sekarang. Kalian lebih hebat dan kuat seratus kali atau bahkan lebih dari orang-orang yang hanya mengemis dan mengamen di jalanan. Padahal mereka mungkin lebih sempurna fisiknya dari pada kalian.

Tetapi kalian tetap melakukan perjudian dalam menjalani hidup. Membuat roti yang jika tidak habis hari ini, maka akan merugi. Sebaliknya kalian masih berharap mencari sedikit rizky yang halal dari keuntungan menjual roti.

Semoga setiap hari laris terjual.

Sebagai pria buta yang berbadan besar aku tau tubuhnya kuat. Namun apa gunanya jika ia berjualan roti tapi tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh para pembeli. Bisa jadi ia merugi.

Namun, ada seorang perempuan yang selalu ada disisinya. Meskipun tidak sempurna dan mungkin tidak mampu membopong begitu besarnya wadah roti itu. Tapi perempuan itu adalah alasan mengapa pria buta tadi mampu menjalani hidup.

Entahlah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika salah satu dari kalian pergi lebih dulu dari dunia. Sehat selalu ya bapak dan ibu.

Kalian telah menjadi sebuah inspirasi yang luar biasa bagiku.

Lalu. Aku mendekat kepada mereka yang sedang berjalan mencari tampat berteduh.

Ketika mereka sudah berteduh mereka tersenyum ketika melihat aku mendekat. Aku melihat wadah roti yang satu sudah kosong. Sementara wadah roti yang satunya lagi setengah penuh.

"Bu, rotinya masih ada?" Tanyaku.

"Wonten nak,"

Jawab si ibu padaku. Sementara pria buta itu hanya tersenyum.

"Tumbas pinten?" Tambahnya.

"Setunggale pinten bu?" Tanyaku.

"Setunggal ewu gansal atus nak. Bade sing rasa napa? Coklat?"

"Nggih pareng bu." Kataku.

Aku mengambil uang sepuluh ribuan. Ibu itu mengemasi roti yang aku beli kedalam kantong plastik hitam.

Kemudian aku melihat tangannya menerima sepuluh ribuan tadi. Kemudian ia mengambil uang kembaliannya dengan hati-hati. Suaranya mendadak lirik.

"Maturnuwun," katanya.

Aku melihat matanya berkaca-kaca. Lalu aku mendengar suara yang sangat lirik melalui telingaku.

"Alhamdulillah."

Aku merasa tambah malu ketika mendengar kalimat hamdallah ini. Dari seorang pria buta penjual roti ini dan perempuan yang selalu berada disisinya, selalu ada rasa syukur pada setiap nikmat yang mereka terima.

Namun aku kadang malah merasa masih saja kurang dengan nikmat yang Allah berikan padaku.

Alhamdulillahirabbil alamin..

Ini adalah suatu nikmat yang Allah berikan padaku. Terimakasih telah memberikan aku kesempatan untuk menikmati roti coklatnya yang sangat enak. Terimakasih juga atas segala nikmat yang telah Engkau berikau pada hambamu selama ini.

Terutama pada hari ketika aku menemukan kisah penjual roti buta dan perempuan yang selalu disisinya.


***


Jika Anda sedang di Yogyakarta dan melewati Jl. Affandi, Jl. Bougenville, Jl. Agro atau Jl. Selokan Mataram mampirlah sebentar untuk membeli beberapa roti yang dijual oleh Pria ini.

Sekian semoga mengisnpirasi.

Tambahan:

Untuk saat ini mungkin saya masih belum menemukan siapa nama beliau. Namun saya mendapatkan fotonya dari akun @indonesiabertauhidofficial di instagram.


Pesan dari Instagram @indonesiabertauhidofficial:
Pagi-pagi ketemu pasangan suami istri yang berjualan roti disekitaran Kampus UNY

Walau Suami nya Tuna Netra dan Fisik ibu nya maaf (istimewa) tapi tak menyurutkan kekompakan semangat berdagang mereka berdua.

Roti nya ga terlalu mahal kok Gaes, satuan nya dibandrol harga 1500 aja, ada varian rasa pisang, abon & coklat. Selain roti mereka juga jualan camilan ringan lho. Kalau ketemu dilarisi ya Gaes, roti nya enak kok empuk. Semoga Bapak ibu ini diberi kesehatan dan kelancaran rejeki selalu aamiin

Harga : 1500

Loc : Ketemu nya di sepanjang jalan Gor UNY, atau sebrang Roti Manahan Yogyakarta.

Postingan terkait: