Mengungkit Kembali Masalah Korupsi di Indonesia


Aku sudah cukup lama mengenal mereka. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) hampir selalu terdengar dari berita telivisi di rumahku. Bahkan aku merasa kalau media-media di Indonesia ini, selalu menjadikan masalah korupsi ini menjadi berita utama (headline).

Pejabat negara yang harusnya memiliki reputasi integritas tinggi malah terlibat kasus oleh skandal korupsi. Integritas itu secara harfiah artinya bersatunya antara ucapan dan perbuatan. Para pejabat harusnya mampu MEMBERIKAN KETELADANAN pada masyarakat, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Aku mungkin tidak begitu mengerti mengenai kerangka historis korupsi di Indonesia. Apa benar korupsi ini memang sudah memiliki akarnya di masyarakat tradisional pra-kolonial, zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang atau mungkin pemerintah Indonesia yang merdeka berikutnya.


Orde Baru
Aku sendiri tidak begitu tau seperti apa hebatnya pertumbuhan ekonomi, yang cepat dan berkelanjutan pada rezim Orde Baru Presiden Suharto (1965-1998). Banyak orang bilang perkembangan ekonomi itu memang begitu mengesankan pada rezim itu, namun kemudian barulah kita ketahui sisi negatif mengenai pemerintahan yang korup.

Satu hal yang aku mengerti adalah Bapakku kehilangan pekerjaan saat krisis moneter tahun 1998. Kami sekeluarga akhirnya pulang ke kampung halaman pada akhir pemerintahan orde baru. Kau tau ada begitu besar kekhawatiran masyarakat kita saat itu. Para pengusaha lokal akhirnya bangkrut karena biaya produksi meningkat, namun hasil produksi tidak memenuhi target. Akhirnya para pengusaha itu pulang ke daerah untuk memberikan rasa nyaman pada keluarganya.

Saat itu aku memang masih kanak-kanak. Kini, setelah dewasa aku tidak tau mengapa begitu banyak perusahaan asing yang menguasai negeri ini. Aku harus bertanya pada siapa mengenai negeri ini? Alangkah lucunya hari ini, ketika seorang pribumi malah jadi kuli di negara sendiri. Semua terjadi berawal dariketamakan oknum-oknum jahat pemerintah.

Kemudian, dengan era baru Reformasi, yang dimulai setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998, situasi ini akhirnya berubah.



Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Negara kita tercinta, Indonesia sejak tahun 2000 tidak lagi menjadi "Negara Berdaulat" secara ekonomi dan sosial, karena semua "kendaraan" (kekayaan alam, lahan, dan industri) telah dikuasai dan dijual kepada pihak asing. Negara-negara lain memajukan ekonomi untuk membesarkan bangsa sendiri, kita malah membesarkan pihak asing, dan malah bukan menjadikan bangsa ini menjadi joki di negeri sendiri.

Kasus tindak pidana korupsi saat ini masih menjamur di Indonesia. Korupsi ini karena ketamakan. Rasa tidak pernah cukup, selalu kurang, kurang dan kurang. Dan, konaah ini mengajarkan kita untuk merasa cukup. Apakah sebagai seorang pejabat, kau tak mampu untuk qona'ah? (Qana'ah = sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidakpuas dan perasaan kurang.)

Menyadari kebutuhan mendesak untuk mengatasi korupsi yang selalu merugikan investasi, dan umumnya mendorong adanya ketidakadilan terus-menerus dalam masyarakat, sebuah badan pemerintah baru didirikan pada tahun 2003. Lembaga pemerintah ini adaaj Komisi Pemberantasan Korupsi (disingkat KPK). KPK memiliki tugas untuk membebaskan Indonesia dari korupsi dengan menyelidiki dan mengusut kasus-kasus korupsi serta memantau tata kelola negara (yang menerima kekuasaan yang luas).

Bagiku KPK adalah pahlawan negeri ini. Keberanian KPK ini telah memicu perlawanan terhadap sebagian besar dari orang-orang yang pernah diusut atau diinterogasi. Mereka kemudian memunculkan banyak fitnah dan mengklaim bahwa KPK sendiri adalah lembaga yang korup. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah skandal telah muncul di mana anggota KPK, konon, dijebak oleh petugas polisi senior dan ditangkap untuk melemahkan kewenangan KPK. Tentu saja berita ini sudah sering kau dengar bukan? Masih ingat bapak Antasari Azhar? (baca: Kehebatan Bapak Antasari)


Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)
Presiden Yudhoyono adalah seseorang yang memprofilkan dirinya sebagai orang yang mengabdi dan bertekad mengatasi korupsi di Indonesia, khususnya mengenai korupsi di kalangan pemerintah. Tentu saja hal ini membuatku, dan seluruh rakyat Indonesia mendukung segala kebijakan beliau. Salah satu keberhasilannya adalah masuknya Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia dari tahun 2005 sampai tahun 2010. Ibu Sri ditugasi untuk mereformasi kantor pajak dan bea cukai yang korup di Indonesia. Dia cukup sukses dan bisa mengandalkan dukungan dari banyak orang Indonesia. Tetapi kinerjanya juga menciptakan musuh. Bukankah kau pasti tau namanya ikut ternodai dalam kasus skandal Bank Century.

Sungguh sayang sekali bukan, menjelang akhir masa jabatannya yang kedua bapak SBY diserang cukup banyak kasus korupsi. Apalagi kasus korupsi ini menyangkut pada partai yang dipimpin oleh beliau, Partai Demokrat. Hal ini sangat merusak reputasi Partai Demokrat maupun Bapak SBY sendiri. Dalam dua tahun terakhir kepresidenannya Yudhoyono, Menteri Pemuda & Olahraga (Andi Mallarangeng) dan Menteri Agama (Suryadharma Ali) mengundurkan diri setelah menjadi tersangka dalam kasus korupsi.


Pemerintahan Joko Widodo
Sama seperti halnya presiden sebelumnya, bapak Jokowi juga menyerukan dirinya untuk bertempur melawan korupsi di negara ini. Tapi apa yang sedang terjadi dengan kasus Sumber Waras? Apakah diungkit kembali? Aku merasa akhir-akhir ini, media malah lebih sering memberikan informasi mengenai isu demonstrasi mengenai penistaan agama. Aku tidak tau harus menulis apa pada bagian ini. Karena masa jabatan beliau sekarang ini masih berjalan.

Aku yakin semua presiden di Indonesia, memliki maksud baik untuk negara dan rakyatnya. Mereka semua memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mensejahterakan bangsa Indonesia. Namun, ada begitu banyak oknum-oknum jahat yang ternyata mungkin menguasai negeri kita. Sehingga, untuk seorang presiden pun harus berhati-hati dalam mengambil sikap. Beban yang diberikan sebagai seorang pemimpin sungguh sangat berat, salah satunya adalah memerangi para pelaku korupsi.

Maafkan aku jika ternyata postingan ini mengungkit kembali masalah korupsi di Indonesia. Jujur, baru kali ini saya berani untuk sedikit berbicara politik. Mungkin suatu saat saya akan membuat surat terbuka untuk presiden Jokowi agar lebih baik dalam menangi kasus korupsi yang merajalela di Indonesia.


Ingalah hal ini!
"Dengan korupsi, prestasi menjadi tidak berarti. - Hanung Manggara"


Terinspirasi dari Status Hanung Manggara di Facebook.
Image: Google Image

Postingan terkait: