Penganggur Oh Penganggur


Saat masih duduk di bangku SMA, saya memiliki seorang tetangga yang baru lulus dari UGM menganggur. Kata kakek saya, ia itu adalah seorang sarjana hukum dengan status lulusan Cum Laude. 

Lalu, pernakah Anda mengenal seorang pengangguran? Kesannya mereka adalah orang yang tidak ada kerjaan, pemalas, bodoh dan yang paling parah ada yang menganggapnya sumber kejahatan.

Namun tahun lalu, menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statitstik, dari 7,2 juta pengangguran yang ada di indonesia, 400 ribu diantarnaya adalah Sarjana. Seperti apa yang saya coba tulis di kalimat pembuka tadi, status lulusan Cum Laude pun belum bisa menentukan pekerjaan apa yang akan dimiliki.

Sebentar lagi mungkin saya bisa bernasib sama. Beberapa minggu yang lalu, saya sudah berhasil menyelesaikan program pendidikan Diploma 3. Sarjana saja banyak yang menganggur apalagi yang D3. November bulan ini, mungkin saya akan di wisuda. Tidak ada mata kuliah itu seperti seorang pengangguran. Tidak ada kerjaan, sangat pemalas, bodoh dan terlihat seperti sumber kejahatan. Jarang mandi, celana sobek, merokok di tempat umum dan nongkrong di tempat yang tidak jelas.

Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang telah aku rasakan selama ini menjadi pengangguran.

1. Menyenangkan
Ternyata menjadi seorang pengangguran ini sangat menyenangkan. Bebas dari berbagai macam tugas kuliah, bebas dari bayaran semesteran, sks, sidang dan lain sebagainya. Ada begitu banyak waktu luang. Saya sendiri bisa menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca beberapa hari ini. Malamnya ada begitu banyak film yang bisa di tonton. Ada pula jika Anda adalah seseorang wanita, mungkin Anda bisa menonton drama Korea berpuluh-puluh episode dengan puluhan tisu juga di kamar. Kalo ada uang bisa jalan-jalan, liburan ke berbagai tempat impian. Kemudian, tinggal sebar lamaran agar bisa mendapatkan karir yang diimpikan.

2. Bosan
Siapa yang tidak bosan dengan hal yang sama terus menerus, berhari-hari ketemu ini lagi. Ada kalanya waktu santai malah membuat pikiran saya tidak baik. Saya panik, jenuh sekali butuh suatu penyegaran. Saya memang masih belum mulai menyebar lamaran, karena memang belum ada ijasah yang saya terima. Saya rasa waktu santai ini benar-benar terlalu banyak, sudah hampir segala hal dilakukan untuk mencari hiburan namun tidak ada satu pun yang dapat menghasilkan. Saya butuh uang, mungkin lebih baik pengangguran ini ada yang membayar.

3. Malu dan Marah
Selain bosan, berada di rumah terus ternyata lama kelamaan membuat saya malu. Malu pada diri sendiri, orang tua dan juga tetangga, apalagi pada teman-teman yang sudah mulai bekerja. Saya ingin kuliah lagi tapi takut akan muncul masalah yang lainnya. Perasaan malu ini akhirnya lama kelamaan menjadi perasaan marah pada diri sendiri. Akhir-akhir ini, jujur saja saya merasa begitu sensitif.

4. Depresi
Mungkin perasaan malu dan marah tadi hanyalah terjadi kadang-kadang. Karena mood seseorang bisa berubah. Terlalu lama menganggur membuat saya sedikit mengalami depresi. Jika Anda seorang perokok mungkin bisa dikurangi dengan satu atau dua batang rokok. Jika terlalu lama begini, bisa jadi kekasih hati akan pergi. Masa depan terasa makin suram, tidak ada jalan keluar padahal usia makin bertambah. Lalu datang berbagai tekanan yang lain, namun solusi dan kunjung didapatkan.

Nah, begitulah apa yang dirasakan saya selama menjadi pengangguran. Kadang begitu menyenangkan, lalu kemudian begitu menyebalkan. Sebelum terlambat menjadi gila, mungkin jika Anda seorang penganggur bisa merubah nasib Anda dengan cara berikut ini :

1. Pelajari suatu skill yang sesuai dengan minat Anda. Meskipun tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda pelajadi di kampus. Suatu saat skill yang sesuai dengan minat Anda ini akan membantu Anda keluar dari zona pengangguran. Saya sendiri sedang belajar menulis, artikel yang Anda baca ini mungkin saja bisa menolong saya nanti.

2. Jangan terlalu menjual mahal pada jenis pekerjaan yang Anda inginkan. Anda tidak akan mungkin bisa mendapatkan pekerjaan dengan status jabatan yang tinggi. Namanya juga wong baru lulus, pengalaman kerja masih kurang. Jadi jangan terlalu menjual mahal pada jenis pekerjaan, cobalah untuk menyebar semuanya di segala bidang dan jangan menuntut harus bekerja sesuai dengan jurusan. Itu namanya, idealis. Jika ada suatu tawaran pekerjaan, coba untuk diterima dulu. Soalnya kemarin saya juga pernah gitu, ujung-ujungnya nyesel juga jual mahal.

3. Cobalah untuk merantau. Mencintai kampung halaman tentu perlu. Contohnya saya yang tinggal pulau Jawa penginnya kerja di jawa juga. Padahal ada banyak hal dan macam pekerjaan yang bisa dilakukan diluar Jawa. Semalem ada teman lama berkunjung, ia bercerita mengenai maluku utara. Disana begitu mudahnya menjadi seorang pegawai negeri sampai banyak yang tidak mau. Disana itu satu desa hanya 20 kartu keluarga. Ibaratnya semuanya bisa jadi perangkat desa. Kalo di jawa mau jadi pns susahnya ya minta ampun, ada yang bilang harus ada orang dalem.  Intinya ya gitu lah, jangan merasa nyaman di kampung sendiri. Kalau nanti saya udah dapat ijasah mungkin saya akan mencoba merantau lebih jauh lagi.

4. Jika memang tidak mau pergi dari kampung sendiri ya satu-satunya jalan adalah berwirausaha. Bangunlah sebuah usaha, karena seburuk-buruknya suatu usaha Anda adalah bosnya sendiri. Jika Anda berminat dan memiliki modal Anda mungkin bisa belajar untuk Trading Forex atau ya usaha saja jualan. Saya juga sedang memulai usaha, buka warung. Lumayan bisa ngasih harapan hidup yang lebih baik. Seperti mendapatkan hiburan dan mainan baru. Mungkin jika Anda masih menganggur bisa di coba. Jualan pulsa mungkin, tapi ingat jangan sampai boleh ada yang berhutang!

Iya mungkin begitulah mengenai seorang penganggur. Bebanya begitu berat. Alangkah lebih baiknya adalah ketika kita lulus kita sudah berfikiran untuk berwirausaha. Itulah yang diharapkan beberapa pengusaha-pengusaha dari Anda muda yang ada Indonesia. Selain menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat, berwirausaha dapat membantu negara untuk lebih maju lagi. Karena mengurangi ketergantungan terhadap pengusaha dari asing.

Apapun yang terjadi, saya doakan untuk semua yang membaca artikel ini bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan kemudian ketika modal cukup sudah mampu membangun sebuah usaha yang besar. Jangan sampai pasar kita ini dikendalikan oleh orang asing. Amin.

Penganggur Oh Penganggur.

Salam penganggur. 

Postingan terkait: