BLOGDIARY: PENGAGUM

Dia 3 tahun ini dia telah menjadi angin. Semilir pada rambut dan mataku, sejuk menenangkan jiwaku. Namun dia pula, angin yang memorak-porandakan semua perasaanku. Aku tidak mengerti apa yang dirasakan hatiku, berkali-kali pun dipatahkan kemudian tumbuh menjadi perasaan yang lebih gila. Aku sudah kenal banyak wanita sebelumnya. Tapi dia masih berbeda sampai detik ini aku mengenalnya aku masih tidak bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Aku selalu dan terus mengangguminya. Aku sejujurnya sudah putus asa dengannya. Aku bahkan ikut senang ketika melihatnya dibuat tersenyum oleh kekasihnya. 

Pernah suatu ketika mungkin aku mencoba lari dari perasaanku. Aku membohongi diriku sendiri untuk tidak menyukainya, selalu dan terus mencoba membencinya. Mungking sudah cukup lama aku pernah melepas perasaanku. Rasanya seperti tanpa beban, bebas namun ada yang salah pada diri. Lalu perasaan ini berpaling pada yang lain, berbohong pada perasaan sendiri. Hingga akhirnya semuanya terlepas, tak ada satupun yang berkenang dihati selain dia.

Sejak kembali sekelas dengannya beberapa semester yang lalu. Entah kenapa, sedikit garis disenyumnya membuatku kembali menyukainya. Aku kembali menggenggam beban perasaan ini. Beban yang bertambah sebenarnya tidak terlalu berasa saat aku tau dia masih berkenan untuk bicara padaku. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi bagaimana cara memilikinya. Toh aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku tahu betapa hebatnya dia mencoba bertahan dengan kekasihnya. Aku tahu sudah seberapa jauh cerita cinta keduanya. Dan aku juga tahu betapa dia mencintai kekasih hatinya.

Tak ada gunanya aku berharap lagi. Sudah cukup bagiku yang masih dianggap lawan bicarannya. Aku hanya perlu menunggu untuk jatuh cinta lagi pada seseorang yang mungkin akan lebih baik darinya, lalu mematahkan hatiku lebih sakit darinya. Aku tahu nantinya juga akan tumbuh perasaan yang lain. Seperti sepenggal kata dari band folks Banda Neira, "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti".

Hei Ka! Mungkin aku sudah terlalu jauh. Rinduku tak pernah mengenal waktu. Bagai pegawai toko yang segenap hidupnya adalah hutang yang harus dibayarkan besok siang. Bagai suatu negeri yang sedang berjuang menebus jiwanya dari tangan orang-orang asing.

Bandung kemarin adalah cerita lamaku. Aku segera berpaling darimu karena akan selalu ada yang lebih baik darimu, hingga akhirnya aku menetapkan dimana hatiku berhenti mencari. Dari segala yang pergi dan kembali, akhirnya aku mengerti. Kita tak bisa mencintai seseorang dengan perasaan yang sama, dua kali. Namun ada satu hal yang masih aku harapkan darimu.

Tetaplah, buat aku kagum!

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "BLOGDIARY: PENGAGUM"

Post a Comment