5 Alasan Kenapa Anda Harus Membaca Buku Fiksi

Saya begitu cemas dengan hobi anak muda jaman sekarang. Mereka begitu sibuk dengan kehidupan hanya untuk mencari kesenangan. Ada yang mencari hiburan melalui media sosial. Lalu beberapa memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan berbelanja. Ada pula yang bekerja seharian tanpa memikirkan waktu hanya demi uang. Kemudian malamnya begitu banyak orang-orang menghabiskan waktu di dunia malam, mabuk-mabukan.

Ketika saya sedang menghabiskan kopi disebuah kafe di kota Bandung. Saya melihat seorang wanita yang duduk disebelah mejaku memandangi sebuah novel fiksi yang di pajang pada rak buku. Kemudian matanya menatap kembali pada ponselnya. Saya bertanya padanya mengapa ia tidak membacanya.

Dia menatapku,"Baca? Saya tidak ada waktu untuk membaca. Maaf ya mas."

Lalu temannya mengatakan, "Jika kami memiliki waktu 10 menit untuk membaca. Kami tidak akan pernah membaca novel fiksi. Kami tidak memiliki waktu untuk tersesat dalam cerita palsu."

Saya benar-benar kesal dengan jawabannya. Sebagai seorang penggemar buku fiksi, saya merasa mereka lah yang tersesat di dunia nyata. Dunia ini pun sebenarnya palsu, termasuk dengan isinya. Kebenaran baru bisa kita dapatkan ketika kita sudah mati.

Jadi mengapa Anda harus menolak untuk memasuki cerita palsu? 

Mengapa kita harus tersesat di dunia tidak kita sendiri, ketika kita memiliki begitu banyak tanggung jawab. Tapi cobalah untuk menerima 5 alasan kenapa Anda harus membaca buku fiksi :

1. Fiksi membantu Anda untuk melihat dunia ini lebih jelas.
Fiksi pada dasarnya adalah seni yang dituliskan menggunakan begitu banyak kebohongan dan ketidak pastian. “Tidak ada yang pasti di dunia ini, satu-satunya yang pasti yaitu ketidakpastian itu sendiri”- Donny Dhirgantoro, 5cm. Dalam kecemasan dan ketidakpastian, saya melihat sosok Zafran akhirnya mampu menghadapi konflik perasaan pada Riani. 

Mungkin versi filmnya lebih meledak di Indonesia. Tapi jika Anda membaca buku fiksinya, Anda bisa melihat dunia dalam 5 cm lebih indah melalui sebuah kata-kata. Begitulah fiksi, mampu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sebuah cerita.

2.  Fiksi merubah Anda untuk menjadi orang yang lebih baik.
Membaca fiksi membuat kita tau, berbagai macam jenis kepribadian dari setiap tokoh yang dituliskan oleh penulisnya. Kebaikan dari seorang tokoh selalu bisa membawa kita kepada perasaan haru yang sangat dalam. Tidak jarang, Anda akan lebih banyak menangis ketika membaca sebuah novel fiksi dari pada versi filmnya.

“Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima yang Sebanyak-banyaknya.” - Andrea Hirata, Laskar pelangi. Apa yang dikatakan oleh Pak Harfan merupakan suatu contoh kebaikan yang bisa Anda pelajari di kehidupan nyata. Melalui membaca Anda akan tau bagaimana baik buruknya seseorang. Bukankah Anda bisa membedakannya, lalu kenapa Anda tidak mencoba untuk lebih baik lagi?

3. Fiksi memperluas pandangan Anda.
Sebenarnya masih banyak hal yang belum Anda ketahui di dunia ini. Suatu budaya, gaya hidup dan yang lebih gila adalah sebuah kekuatan yang besar dari kata-kata. Fiksi selalu bisa membawa pikiran Anda berpergian jauh entah kemana. Lalu kata-kata, merekalah yang akan membantu pandangan Anda dalam menghadapi sebuah kehidupan.

"Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu." - Dee Lestari, Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Bukankah Anda kini tau, bahwa dunia kita pun adalah panggung sandiwara. Semua terserah Anda dalam menyikapi, pandangan yang baik dalam suatu hal akan selalu menyelamatkan hidup seseorang.

4. Fiksi mengajari begitu banyak hal
Penulis fiksi bukan hanya sekedar pendongeng, mereka telah belajar begitu banyak akan sesuatu sebelum menuliskan dalam buku. Segala bentuk pelajaran yang dihadapi penulis, selalu ia bagikan pada pembacanya. Hanya melalui kata-katalah, ia mencoba berbagi.

"kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak..." - A.A. Navis, Robohnya Surau Kami.

5. Fiksi membentuk pemikiran Anda
Membaca fiksi selalu merangsang sebuah kreativitas dan imajinasi. Hal ini akan sangat berharga suatu hari. Kita tau berbagai jenis buku fiksi dari luar pun sudah banyak yang masuk di Indonesia. Apa anda tau film Twilight? Film ini diadaptasi dari sebuah novel karya Stephenie Meyer. Percaya padaku apa yang akan Anda baca di novelnya lebih indah dari yang di filmkan.

Membaca fiksi ternyata cukup bermanfaat. Semoga dari apa yang saya tulis ini, membuat Anda menjadi orang yang menyukai buku fiksi. Doakan saya semoga suatu hari nanti saya mampu menulisnya.

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

Salam penulis! :)

Postingan terkait: