Jurnal Backpacker #1: Antara Aku dan Sudut Kota Yogyakarta

Taman di Keraton Ratu Boko
Selama ini aku sering melakukan perjalanan sendiri, berjam-jam di dalam gerbong kereta api dengan percakapan yang sering tidak aku mengerti. Hingga sampai akhir dari cerita yang akan ditulis ini, aku sadar ternyata berpetualangan dengan beberapa teman sedikit menyadarkanku. Sendiri mungkin tempat terbaik untuk merenung, tapi ternyata ketika ada seorang teman aku tahu bagaimana rasanya berbagi kebahagiaan. Tapi jangan sampai lupa untuk tetap menyisakan waktu untuk sendiri yaa! Karena sendiri adalah waktu yang paling tepat untuk berinteraksi dengan tempat yang dikunjungi, mulai dari sudut-sudut kota, trotoar hingga taman kota.

Bandung, 31 Juli 2016 - Ini adalah awal mula dari semua yang akan diceritakan disini. Cetak boarding pas hingga sedikit perkelahian kecil karena keterlambatanku. Aku mungkin meminta keempat temanku untuk datang 2 jam lebih awal, tapi aku sendiri yang membawa tiket malah datang 15 menit sebelum keberangkatan kereta. 

Ini adalah sedikit Jurnal Perjalanan, semoga saja bisa dipakai menjadi panduan oleh kalian yang ingin melakukan perjalanan di Yogyakarta. hehe

Hari keberangkatan, 31 Juli 2016

Sekitar Pukul 19:45, kami mencetak boarding pass di Stasiun Kiaracondong. Tanpa pikir panjang kami langsung lari-lari kecil untuk segera masuk ke gerbong kereta, karena 15 menit kemudian adalah jadwal keberangkatan kereta Kahuripan.

Di perjalanan ini, mungkin seharusnya aku membawa obat tidur. Beberapa dari teman yang aku bawa adalah orang yang baru melakukan perjalanan jauh menggunakan kereta, beberapa tidak bisa tidur dan berbicara sepanjang perjalanan. 

Hari pertama, 1 Agustus 2016

Setelah hampir lebih dari 9 jam perjalanan, pukul 04:45 kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Secepatnya aku dan temanku langsung mengambil wudhu diteruskan dengan sholat shubuh berjamaah di masjid An-Nuur. 

Sepanjang pagi ini, kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Untuk mendapatkan sedikit olahraga kecil, aku ajak mereka untuk memutar jalan hampir 20 menit lebih lambat untuk sampai ke Jl. Malioboro. Lumayan untuk Ade yang gendut, hampir 5% lemaknya pasti sudah terbakar.

Akhirnya tepat pukul 06:00, kami sampai di Jalan Malioboro. Keadaaan belum mandi dan tetap siap sigap untuk foto-foto.

Jl. Malioboro Pagi Hari.
Sebenarnya agak sedikit mengecewakan, karena ada perbaikan trotoar. Tapi apapun itu, tidak menghalangi indahnya suasana di jalan ini. Potret landscape untuk pecinta fotografi tidak ada habis-habisnya ditemukan di jalan ini, apalagi potret selfie.

Soal jalan ini, aku mungkin kurang tau sejarahnya tapi dengan berjalan kaki penuh sepanjang jalan ada sesuatu yang sangat bersejarah dijalan ini. Ada banyak hal tapi lebih baik tidak usah diceritakan disini. Selamat mencari tahu sendiri! Karena tiap orang akan menemukan sesuatu yang berbeda pula. 

Becak Motor Malioboro
Lelah menyusuri jalan, pukul 07:00 kami menemukan Gudheg Yu Djum yang terletak di Jl. Dagen nomer 2 C, Malioboro. Harganya pun relatif murah, yaitu mulai dari sepuluh ribuan. Menunya bergagam bisa di cek sendiri disana yaa! hehehee

Biar ga penasaran ini ada sedikit potret #foodporn, hehehe jangan ngiler yaaa!

Gudheg Yu Djum
Sangat disayangkan jika lidah Anda bukan penggila kuliner. Perpaduan asam, manis dan pedasnya memang nikmat. Tapi ada juga temanku, Wildan sepertinya tidak suka, Gudhegnya tidak habis. Aku rasa lidahnya bermasalah. Hahahaa..

Setelah kenyang, perjalanan berlanjut ke ujung Malioboro. Bangku taman depan Benteng Vredeburg adalah tempat untuk istirahat yang cukup teduh, pohon beringin besar seakan-akan memayungi kami dari terik matahari. Sebrangnya ada Gedung Agung Yogyakarta, lalu sisinya ada Monumen Umum Serangan 1 Maret. Pemandangan yang penuh sejarah bukan?

Lihat apa yang aku temukan?

Bunga untuk kamu. hhi
Sayang sekali bukan, jika perjalanan ini dilakukan jika sendiri, setidaknya bawalah pasanganmu! Harusnya ada kamu disini, aduh baper. hahahahahaa

Seandainya tanpamu untung ada mereka, yang selalu menemani perjalanan. Sebuah pertemanan dengan beban di bahuku. Hahahaha apa-apa nanya, kemana, kapan, bagaimana, mengapa dan apa lagi? Kata orang Jawa mereka itu kaya buntut, cuma bisa ngikutin. Hahaha

Nano, Wildan, Ojan dan Ade
Kami terus melanjutkan perjalanan, langkah demi langkah mengatarkan kami sampai di Alun-Alun utara pada pukul 08:15. Alun-Alun Utara menurut sudut pandangku adalah tempat yang sakral karena pernah digunakan prajurit kerajaan untuk berlatih perang. Selain itu, Alun-Alun Utara juga membentuk tata letak kota yang menarik. Pusat pemerintahan tempo doeloe (Keraton Yogyakarta), Masjid Gedhe Kauman dan Alun-Alun Utara adalah hal yang saling berkaitan dan tidak bisa di pisahkan. Tempat ini adalah pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. 

Pukul 08:30, kami masuk ke halaman Masjid Gedhe Kauman. Suasananya teduh sekali, aku merasa tenang dan terbawa nostalgia. Nostalgia Ramadhan sekitar tiga tahun yang lalu, aku berbuka puasa bersama warga Yogyakarta hampir disetiap harinya. Soalnya gratis sih, hehehehe.

Kemudian, pukul 09;00 kami berkunjung ke Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta
Ayam siapa yaa? hehehehe 

Terlalu banyak hal untuk ditulis di Keraton Yogyakarta, saking banyaknya aku jadi bingung mau nulis dari mana? Mari tingkatkan rasa penasaran kita! hehehee. Eleg siah! Wkwkwk

Mari kita lanjutkan penulisan jurnal! 

Langkah kaki mulai lelah, tapi apa daya perjalanan kami masih panjang, masih banyak tempat yang mesti dikunjungi. Lalu, tanpa disadari langkah ini membawa kami kepada alun-alun kidul pada pukul 10;30.

Tempat Ritual Laku Masangin di Alun-Alun Kidul
Mitosnya sudah turun-temurun, barang siapa yang berhasil melakukan ritual laku masangin maka hatinya bersih dan permohonannya akan terkabul. Sayang sekali, aku yang penasaran malah lebih memilih duduk diam untuk menikmati tahu gejrot. Sayang sekali Ka, permintaan untuk berjodoh denganmu belum dicoba. Haha

Pukul 11;15, perjalanan pun berlanjut. Untuk mencharge tenaga, kami putuskan untuk segera check in di penginapan yang sudah di booking, Hotel Nugraha. Tempatnya agak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Akhirnya pada pukul 12:30, bisa juga check-in. Karena seharian belum mandi, aku langsung gas kamar mandi. Mandi beres, sholat dhuhur udah langsung tidur, tapi ternyata masih belum bisa tidur. Jadi pukul 14:00, makan nasi bungkus dulu biar ada tenaga untuk melanjutkan jalan-jalan. 

Anehnya mata ini terpejam,tapi otak ini tiada hentinya untuk terlelap, aku memikirikanmu. Unch. Asu! Lalu, tanpa disadari sudah adzan lagi. Yogyakarta yang panas memaksaku, untuk mandi lagi. Pukul 16:00, setelah sholat ashar kami berjalan menuju halte terdekat untuk menggunakan Trans Jogja. Harga cuma 3500 rupiah, sekali masuk bebas kemana aja asal masih kota Yogyakarta. 

Tujuan kami kini berbeda, beberapa ingin makan pecel. Sementara aku mau temu kangen dulu sama adek kesayangan, Bila di Lippo Mall. Sampai di Lippo Mall pukul 18:15 langsung sholat maghrib. Nunggu Bila ternyata lama juga, datang-datang ternyata sama mas Tegar. Hahahahaa. Ini mah adek ketemu gede, temu kangen di kota Yogyakarta. 

Kelilingan cari tempat nongkrong, akhirnya mendaratlah di J.Co. Akhirnya titipan topi yang aku bawa dari Bandung, sampai juga di tangan Bila. Bil ongkire  bolak-balik 160k loh. -__-

Hahhahaaa. Kalem dek! Ga itungan kok! Wkwkwkwkw

Nabila Lagi Cari Pacar.
Ada yang mau kenalan sama bila ga nih? Hmm..

Lanjut jurnal deh yaa!

Pukul 21:00, akhirnya sampai di Patung Tugu. Selamat datang para pecinta pengatur shutter speed, sayang sekali aku hanya bermodal handphone kali ini. Lampu kota, sorot lampu mobil dan sorot matamu bisa beradu gaya dalam satu frame. Tapi maafkan aku, karena selalu bawa-bawa kamu dalam rindu. Disini si Ade ga asik, karena udah bawa-bawa pengin Ee. Rusak kan acara, jadi weh acaranya jalan-jalan mencari WC hingga akhirnya baru ketemu di Indomaret Point Jl. Malioboro. Jauh :(

Setelah si Ade udah beres lodomnya(baca: buang air besar), baru deh berburu gelang di malamnya Malioboro. Ternyata langkah kakiku cuma bisa diimbangi oleh Ojan. Bermodalkan lengan kananku di bahu kirinya, ternyata Ojan cukup terdorong jauh kedepan. Meninggalkan rombongan trio siput (Ade, Wildan dan Nano) yang letoy.

Sekedar info nih, buat yang cari gelang mending kalem dulu. Ada gelang murah yang harganya cuma sepuluh ribuan per lima buah gelang(belum di tawar). Tempatnya cari sendiri yaaa! Atau chat deh. Biar kenal, biar deket. Hhi

Pukul 22:30, Aku sama Ojan nongkron di Wedang Ronde milik Pak Min. Nikmat banget, apalagi kalo diminumnya santai. Bukan malah harus diburu-buru waktu dengan ditanyain ini terus, "Dimana?" Belum lagi yang ngajak berantem, "Gelut weh jeung urg ayeuna! Sia duaan naon maksud?". Bukan maksudnya aku ninggalin, aku ga bareng karena hanya ingin memberi kebebasan. Bebas mau lambat, mau pelan, mau bareng atau mau sendirian sekalipun. Kita udah gede! Jangan biasain manja! 

Wedang Ronde Yogyakarta
Ini Jogja! Belum tentu bisa didapat lagi momennya! Jadi apapun yang terjadi maafkan aku. Sebenarnya yang lebih sering berantem adalah aku dengan Ojan, kaya orang pacaran sama-sama gamau kalah pada pendapatnya padahal semuanya hanya kesalahpahaman.

Pukul 23:00, akhirnya berkumpul kembali. Keadaan mungkin kacau, namanya juga backpackeran jadi harus siap dengan apapun kemungkinan yang terjadi. Jangan manja! Harus bisa ngulik ide sendiri!

Untuk menghindari perang dingin ini, akhirnya proses pulang yang direncanakan dengan jalan kaki dirubah menggunakan Go-Car oleh Wildan. Agar tidak ada lagi yang perlu merasa ditinggalkan. Maafkan aku, sesampainya di Hotel, sehabis sholat isya langsung tertidur.

Untuk jurnal hari kedua, akan dilanjut di postingan berikutnya. :)


See yaa!

Sekian dulu.

Postingan terkait: