Jurnal Backpacker #2: Ada Apa dengan Cinta di Ratu Boko?

Nano, Ojan, Aku, Ade dan Wildan (yang motret)
Yogyakarta, 2 Agustus 2016 - Hari kedua disini membuatku sangat bersyukur, karena memiliki beberapa teman yang bisa aku ajak untuk berpetualang. Pertemanan tidak perlu munafik, jika adu argumen tidak cukup maka tak masalah untuk berkelahi. Main pukul sewajarnya pun bagiku tak masalah, asal masih bisa saling memaafkan nantinya.

Hari Kedua, 2 Agustus 2016

Berawal dari bangun kesiangan, aku adalah orang yang buru-buru. Jarak dari hotel yang jauh ke daerah Prambanan adalah yang memaksa kami untuk segera mandi. Pukul 09:00, setelah semuanya sudah rapi kami berjalan kaki menuju halte terdekat. Setelah sampai di halte, kami langsung diberikan kode trayek bus untuk menuju halte prambanan. Pertama kami dapat bus TransJogja dengan kode trayek 2B, sampai di halte kehutanan ganti TransJogja dengan kode trayek 4A. Kemudian jika tidak salah di teminal giliwangan, bus yang kami naiki adalah TransJogja dengan kode trayek 1A. 

Perjalananan menggunakan TransJogja memakan tidak sedikit waktu. Pukul 11:15, kami baru sampai di halte Prambanan. Kemudian di halte ini, banyak kendaraan dari andong hingga angkutan umum yang mengantar ke Candi Prambanan dan Candi Rato Boko. Kami memilih naik angkutan umum, 30rb hingga akhirnya kami memilih destinasi ke Candi Ratu Boko. Ternyata jarak dari halte cukup dekat, sebenarnya cukup dengan berjalan kaki. Untuk yang suka berjalan kaki saya sarankan jangan terpengaruh sama tawaran angkutan yaaa. Harganya lumayan mahal, maksudnya dibandingkan dengan jalan kaki.

Pemandangan sebelum loket Candi Ratu Boko
Pukul 11:29, kami sampai di pintu loket masuk Candi Ratu Boko. Tiket masuknya tidak kurang tidak lebih, hanya, 25rb rupiah untuk wisatawan lokal. Pemandangan depan loket ada gedung yang megah dan  indah. Tidak hanya sampai disitu, langkah yang melewati tangga demi tangga ini disertai rasa syukur ditiap jejak yang ditinggalkan akhirnya mampu melupakan rasa lelah kami. Aku begitu kagum dengan pemandangan di puncak bangunan ini. Sebuah restoran mewah dengan pemandangan landscape Gunung Merapi. Bisa dilihat betapa cantiknya langit senja ditempat ini.

Ratu Boko Restaurant
Melalui tempat ini sebuah petualangan baru akan membuatmu terkagum-kagum, percayalah. Bagaimana mungkin zaman dahulu manusia membangun sebuah bangunan megah yang dibuat dengan batu-batu berat yang tersusun dengan sangat rapi, gapura candi ini adalah salah satunya. Sebenarnya aku lebih suka menyebutnya Keraton Ratu Boko, karena ini adalah peninggalan sejarah Jawa.

Momennya benar-benar pas, tidak terlalu ramai disini. Gapura ini seperti menyambutku dengan hanggat, seakan-akan ia berbicara denganku mengungkapkan betapa senangnya ia ketika dikunjungi.. Aku benar-benar mendengarnya, jika aku gila pukul saja aku agar segera sadar saat itu. 

Gapura Keraton Ratu Boko
Aku merasa sudah kehabisan kata-kata di detik ini. Ketahuilah, diantara semua kata-kata yang dituliskan olehku semuanya belum mampu untuk mengaskan betapa megahnya apa yang aku lihat. Karena tidak sempurnannya apa yang aku tulis ini, lebih baik lihat dulu apa yang bisa aku potret disini. Mungkin tidak sebagus hasil dari potografer profesional. Tapi setidaknya pahamilah perasaanku ketika menggambil gambar ini.

Gapura Ratu Boko
Gapura Ratu Boko
Tempat Peristirahatan Pengunjung
Pendopo Ratu Boko
Sedikit informasi yang saya dapat mungkin bisa kamu jadikan referensi. Situs Ratu Boko terletak di perbukitan Boko dengan ketinggian 195,97m di atas permukaan laut dengan luas sekitar 160.898 m2. Situs Ratu Boko merupakan peninggalan sejarah Jawa yang bercorak Hinduisme dan Buddhaisme, yang dibangun pada abad VII - IX M. Pada pertama kalinya, situs ini adalah sebuah kompleks wihara sebagaimana tercatat dalam prasasti Abhayagiriwihara yang berangka 792 M. Disini kami banyak melihat reruntuhan stupa, arca Dhiyani Buddha stupika.

Sekitar tahun 856 M, situs ini berubah menjadi kediaman seorang penguasa bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu. Temuan Arkeologi berupa prasasti Ratu Boko (berangka tahun 856 M) dan mengandung unsur tentang pembangunan Lingga yaitu Lingga Kritivaso, Lingga Tryambaka dan Lingga Hara. Prasasti lain yang ditemukan yaitu, prasasti Pereng (862 M) mengandung keterangan tenang bangunan suci untik dewa Siwa, yaitu candi Badraloka. Adapun tinggalan arkeologi lainnya yang bersifat hinduisme adalah arca Durgam Ganesa, miniatur candi yoni dan prasasti dari lempengan emas.

Beberapa waktu yang lalu sebenarnya tempat ini mulai booming, karena ikut dipromosikan secara tidak langsung melalui film Ada Apa Dengan Cinta 2. Tapi menurut saya masih cukup sepi dibandingan dengan Candi Prambanan. Karena masih belum terlalu ramai, sepertinya akan bagus untuk mencari ketenangan disini. Jika waktu mengijinkan, aku ingin kembali kesini lagi cukup berdua denganmu.

Sekali lagi, apapun yang sudah diciptakan manusia ditempat ini sebenarnya masih belumlah seindah apa yang sudah di ciptakan oleh tuhan di tempat ini. Entah apa fungsi dari bangunan ini pada masa lalu, apa itu untuk memuja atau pun yang lain. Aku hanya ingin menyadarkan bahwa pada dasarnya manusia bukan apa-apa tanpa tuhan. Bangunan ini masih bisa rusak kapan saja, semua mudah terjadi jika tuhan sudah berkhendak.

Kembali lagi ke Jurnal.

Pukul 14:00, kami shalat Dhuhur sekalian Asharnya di Masjid Keraton Ratu Boko.

Pukul 14:30, kami akhirnya keluar dari Keraton Ratu Boko. Kembali ke jalan raya, kami sedikit istirahat untuk menikmati betapa nikmatnya gorengan dan teh manis di angkringan. Aku ingin mengatakan bahwa jika Kamu seorang backpacker, disini tidak ada kendaraan untuk kembali ke kota. Setidaknya cobalah untuk menikmati jalan kaki sore dari Keraton Ratu Boko ke halte di Prambanan. Seperti kami misalnya, bukan karena terpaksa aku sendiri ikhlas menjalaninya. 

Pukul 15:00, kembali ke halte untuk pergi melanjutkan ke Kota Gede. Sampai di pasar Kota Gede pukul 16:45, makan sedikit di daerah pasar lalu langsung melanjutkan ke makam raja-raja mataram. Sholat maghrib di masjid Perak Kota Gede. Kemudian Isyanya di Masjid Mataram. Wisata rohani di tempat ini mungkin tidak bisa saya bagi. Mohon maafkan saya karena perasaan saya benar-benar tidak enak disini.

Sekian dulu yaa.

Nanti dilanjutkan ke Jurnal Backpacker #3: Sampai Jumpa lagi Kota Yogyakarta.

Selamat malam.


Postingan terkait: