Dilema Hujan Hari Ini

Hari ini mendung, begitu pula perasaanku beriringan melantunkan melodi dari senar-senar gitar yang aku mainkan.

Kilat cahaya dan gemuruh guntur, menghentikan suara gitarku. Aku mencoba keluar, menyambut hujan dengan payung hitam. 

Aku berlari ke tengah jalan, memandangi orang-orang berlari mencari tempat untuk berteduh. Gerimis datang, rintik air sedikit demi sedikit menjadi hujan. 

Lalu, aku mendengar sesuatu berbisik, tepat didalam kepalaku.

"Aku adalah air, menjelma jadi hujan. Dulu di rindu, kini di benci. Aku di caci akan kedatanganku!"

Aku mencari dari mana datangnya suara itu, kiri-kanan, depan-belakang aku tidak mendapati seseorang pun berbicara.

"Rintihku membasahi tubuh, tapi tidak pada tangkai payungmu," katanya menambahkan.

"Siapa kau?" tanyaku lirih.

"Aku pernah kau anggap berkah! Kemudian datang banjir, longsor dan segala rupa. Kau menyalahkanku yang membawa musibah!" jawabnya.

Suaranya pun semakin keras, menganggu pikiranku.

"Bukankah itu sangat naif. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" menambahkan tanya padaku.

Lantas, aku menjawabnya lantang.

"Ingatlah, hujan! Kamu harus membuat hidup orang lain menjadi lebih baik! Itu bisa lewat senyummu, tawamu, cintamu, kedatanganmu, atau kepergianmu!"

Aku pun menutup payungku, aku menyatu dengan hujan.

"Kau tidak perlu menangisi hal yang jelas-jelas bukan salahmu!" kataku menambahkan.

Kemudian, orang-orang menganggap aku gila berbicara dengan hujan.

Postingan terkait: