Cerpen: Aku, Kamu dan Dota 2


Hari itu aku ingin bunuh diri. Bagaimana mungkin Desti, pacarku selama satu tahun ini memutuskanku. Apapun alasanya untuk putus, benar-benar tidak bisa aku terima. Pokoknya, hari itu semuanya terasa dunia seperti sudah berakhir.


Aku pulang dengan kondisi yang mengenaskan. Rambut berantakan, mata merah, muka kusam dan tak bergairah. Sebenarnya ini bukan karena putus, tapi karena aku habis begadang main Dota 2 di warnet. Kemudian, aku pikir mungkin setiap hari aku seberantakan ini. Mengingatkanku pada kata-katanya kemarin.

"Kapan kamu mikirin aku, Ky?"

"Selama ini, kamu lebih memilih untuk tidak kehilangan 25 point mmr dari pada aku!"

"Kapan skripsimu beres, Ky? Bahkan untuk masa depanmu kau tidak begitu peduli?"

"Des, tapi aku Miracle! Kamu tidak tau betapa hebatnya aku di midlane," Jawabku.

"Sudahlah aku tidak peduli denganmu, duniamu! Aku mau putus," Pintanya.

Percakapan kami kemarin ternyata masih menyisa di kepalaku, tidak mau hilang. Ruang tengah rumahku pun terasa seperti setting kejadian kemarin malam. Noah's cafe, meja bundar dan foto lama ayahku. Tunggu dulu, tidak ada foto lama ayahku di cafe tadi.

Ku ambil foto itu, aku lihat mata ayahku dalam-dalam. Ayah tersenyum di foto itu lalu aku tersenyum memandanginya, hampir tertawa. Kemeja putih dasi hitam kupu-kupu. Rambutnya klimis, disisir membelah dua dan ditengahnya ada jalan ketombe untuk memulai hijrah. 

"Tapi setidaknya dia rapi kan, Ky?" tanya ibuku mengaggetkanku.

"Ayahmu itu, ga ada henti-hentinya cari cara buat dapetin ibu. Kalo dulu, dia sama kaya keadaan kamu yang sekarang, mungkin kamu ga bakalan ada." kata ibu menambahkan.

"Terimakasih bu, aku ke salon dulu." kataku sembari mengeluarkan kunci motor. 

Aku mungkin sudah kehilangan Desti, tapi mungkin aku masih belum terlambat untuk berubah. Meminta maaf padanya atas apa yang sudah terjadi.

Selesai dari salon rambutku baru, lebih rapi dari biasanya. Ini adalah model klasik tahun 70an. Disisir rapi ke kanan, dan ada garis jalan yang indah. 

Lantas, apa jika aku sudah mandi dan wangi. Bisakah aku mendapatkanmu kembali, Des? Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Des. Aku hanya bisa menunggu penulis memindahkan latar tempatku ke kampus. Kemudian aku akan meminta maaf padamu.

"Hey! Penulis! tolong kembalikan Desti!' pintaku pada penulis. 

Mungkin aku gila, tapi hebatnya sekarang aku sudah di kampus. Lalu tanpa kusadari, Desti sudah di depanku.

Plakk!!! dia menamparku.

"Wiky!! Kamu pikir aku bicara sama siapa? dari tadi diam terus?" tanyanya padaku.

"Maafkan aku Des! Aku mungkin tidak akan bisa mendapatkanmu kembali. Lantas, bolehkah aku bermain dota 2 lagi?" 

"Kamu gilaa, Ky!" Desti menggerakkan tangannya, hendak menamparku lagi. 

Aku raih tangannya, lalu aku genggam erat-erat. Aku berbisik lirih padanya,

"Ini gameplay dota yang terakhir, apakah kamu mau menemani aku bermain? atau mungkin biar kamu saja yang memainkannya. Aku mencintaimu".

Unchh..

Kemudian, Desti malah kecanduan main Dota 2. 

Bersambung..


Postingan terkait: