Wednesday, 7 December 2016

NYANYIAN OMBAK


Pesisir yang kuat adalah cintaku
Dan aku adalah kekasihnya.
Kami akhirnya bersatu dalam cinta, dan
Lalu bulan mengambilku darinya.
Aku pergi ke bulan
Dengan enggan, dan
Sedikit perpisahan.

Aku dengan cepat mencuri dari belakang
Horiszon curi untuk melemparkan
Buih perakku diatas pasir emasnya, dan
Kami bercampur dalam pemikiran.

Aku memuaskan dahaganya dan menyelami
Hatinya, ia melembutkan suaraku dan sifatku.
Dalam fajar aku mengumandangkan peraturan cinta dalam
Telinganya dan ia memeluku dengan sangat erat.

Di tengah hari aku bernyanyi untuknya
Lagu harapan, dan lalu mencetak ciuman lemput di
Wajahnya, aku tergesa-gesa dan takut, namun ia
Diam, sabar dan termenung.
Dada lebarnya menenangkan keletihanku.
Saat pasang datang aku memeluknya,
Ketika pergi, aku jatuh di kakinya dengan
Berdoa.

Sering kali aku menari dan mengelilingi putri duyung
Saat mereka datang dari kedalaman untuk beristirahat
Dibawah kakiku untuk melihat bintang,
Sering kali aku mendengar seseorang mengeluhkan
diri mereka, dan aku membantu mereka untuk mendesah.

Seringkali aku menggoda karang besar
Dan menyenangkan mereka dengan senyum, namun tak pernah sekali pun
Aku menerima tawa dari mereka.
Seringkali aku mengangkat jiwa yang tenggelam
Dan membawa mereka dengan lembut ke pasir pantai.

Seringkali aku telah mencuri keriangan dari
Kedalaman dan menunjukkan mereka cintaku kepada pantai.
Ia mengambilnua dalam diamku, namun tetap
Aku memberi karena ia menyambutku.
Dalam beratnya malam, ketika semua
Makhluk mencari hantu ketenangan, aku
Duduk tegak, menyanyi suatu waktu dan mendesah
Di waktu yang lain. Entah mengapa aku selalu terbangun.

Ah! Ketidaktiduranku telah membangunkan aku!
Tetapi aku adalah kekasih,, dan kebenaran cinta.
Aku mungkin, lelah tetapi aku tidak akan mati.


tag: NYANYIAN OMBAK

RUMAH KEBERUNTUNGAN


Hati lelahku menyuruhku untuk berpisah dan meninggalkan rumah keberuntungan ini. Saat ia mencapai kota suci yang telah diberkahi dan dihormati, entah mengapa ia mulai bertanya-tanya, karena ia tidak dapat menemukan apa yang selalu ia bayangkan mengenai apa yang ada disana. Kota itu kosong, tidak memiliki kekuatan, uang, dan kekuasaan.

Dan hatiku berkata pada seorang gadis yang ku temui, berkata, 

"Oh, Cinta, dimana aku dapat menemukan kesenangan? Aku mendengar bahwa ia telah datang kemari untuk bergabung denganmu."

Dan gadis itu pun menjawab,

"Kesenangan telah pergi untuk berkhotbah pada masyarakatnya di tengah kota, dimana ketamakan dan korupsi adalah yang terpenting, kami tidak membutuhkan dia (kesenangan)."

Keberuntungan tidak membutuhkan kesenangan, karena itu adalah harapan duniawi, dan harapannya dipeluk oleh sekumpulan rakyat, sementara kesenangan tidak memiliki apapun kecuali hati yang pecah berkeping.

Jiwa abadi tidak pernah merasa senang, mereka hanya mencari keagungan. Lalu hatiku melihat keindahan hidup dan berkata,

"Kau adalah seluruh pengetahuan, menerangiku sebagai misteri wanita."

Dan ia menjawab,

"Oh, hati manusia, wanita adalah pantulan dirimu sendiri, dan apapun dirimu, ia sepertimu, dimanakah kau hidup, disanalah ia. Ia bagai sebuah kepercayaan bila tidak diterjemahkan oleh si dungu, dan seperti bulan tidak tertutup dengan awan, dan seperti angin, bila tidak diracuni oleh pencemaran."

Dan hatiku berjalan menuju pengetahuan, gadis tadi dan keindahan, dan berkata,

"Berikan padaku kebijaksanaan, sehingga aku dapat membaginya dengan orang-orang."

Dan ia menjawab,

"Jangan katakan kebijaksanaan, namun lebih baik keberuntungan, karenan keberuntungan sejati tidak akan datan dari luar, tetapu dimulai di kesucian kehidupan. Bagilah dirimu dengan orang lain."

tag: RUMAH KEBERUNTUNGAN

Monday, 5 December 2016

CARA BERBAKTI DAN MEMULIAKAN ORANG TUA


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebelum menuliskan mengenai bagaimana cara berbakti dan memuliakan orang tua, aku ingin menguncapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada para pembaca, karena sudah meluangkan sedikit waktunya untuk penulis.

Aku juga ingin mengajak pembaca untuk terus meningkatkan iman dan taqwa terhadap Allah SWT. Matilah kita lipat-gandakan ibadah dan amal saleh yang akan mendapat imbalan perupa pahala, serta mengikis habis perbuatan salah yang diancam ganjaran dosa.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku lebih termotivasi untuk beribadah. Aksi long march yang dilakukan oleh santri dari Ciamis sempat membuatku menangis, salah satu yang paling membuatku terharu adalah semangat dari sosok seorang bapak yang memiliki keterbatasan fisik, namun beliau tidak pernah menganggapnya sebagai halangan untuk memperjuangankan apa yang dianggap olehnya benar. 

Apakah kita yang diberikan kesempurnaan secara fisik tidak merasa malu akan perbuatan kita?

Berbakti dan Memuliakan Orang Tua
Berbakti kepada orangtua adalah kewajiban dalam islam, sebagaimana wajibnya shalat, dakwah, amar ma'ruf nahi munkar dan jihad.

Dalam perkara ini Allah berfirman,
"Dab Rabbmu telah memerintakan supaya kamu jangan menyembah selian Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan 'Ah' dan jangalah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." - QS. Al-Israa': 23

Aku sangat bersyukur karena masih memiliki orangtua, karena di depanku masih ada pintu jannah yang sangat lebar terbuka. Namun terkadang, aku malah seringkali lupa untuk berbakti dan memuliakan mereka.

Mungkin ini yang seperti sering dikatakan oleh orang, 

"Surga yang jauh dicari, namun yang dekat malah dilupakan."

Orangtua adalah pintu jannah yang paling tengah, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya. Pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus, dan yang paling tinggi. Dengan kata lain, sebaik-baiknya sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggii adalah mentaati orangtua dan menjaganya.

Sungguh terlalu, seseorang yang mendapati orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk surga, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Orang itu tidak berbakti, tidak mentaati perintah orangtuanya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri.

Marilah kita berkaca diri, sudahkan layak kita disebut sebagai orang yang berbakti kepada orangtuanya?

Kewajiban untuk berbakti kepada orangtua tentu tidak bisa kita tinggalkan. Dosa durhaka kepada mereka adalah dosa terbesar kedua setelah syirik kepada Allah. Ibnu Katsier mengatakan, "Setelah disebutkan hak Sang Pencipta atas hamba, Allah jelaskan hak makhluk atas hamba. Dan yang paling utama adalah hak kedua orangtua.

Berbakti Saat Masih Hidup
Banyak cara berbakti pada orangtua. Salah satunya adalah seperti menjaga pandangan(tidak memandang tajam) pada keduanya, mendahulukan keduanya dalam makan dan minum, tidak mendahului dan menyela pembicaraan dan sebagainya. Kemudian yang paling ditekankan adalah berbakti dengan cara menjaga lisan. Lisan ibarat pisau tajam yang bisa melukai siapa saja. pada orangtua sedikitpun jangan pernah sampai lisan melukai mereka.

Aku menuliskan hal ini bermaksud untuk mengintrospeksi diri, terutama pada diriku sendiri. Mungkin kita sering tidak sadar mengeluarkan kata-kata yang bernada jengah, kesal, marah, bahkan mungkin yang pernah kita lakukan seperti mengumpat dengan kasar, membentak sambil melotot dan sebagainya. Nastaghfirullahal adhim, Kami mohon ampun kepada Allah yang maha agung.


Berbakti Saat Keduanya Telah Tiada
Bentuk bakti saat orangtua telah meninggal dunia dinataranya adalah tidak meratap (niyahah) saat orang tua wafat, melunasi hutangnya, menunaikan janji, menutupu aib keduanya, memperbaiki track record mereka yang buruk saat masih hidup, dan menyambung silaturahmi dengan beberapa teman karib orangtua.

Kemudian, yang paling penting adalah dengan berdoa. Doa untuk selalu meminta dan memohonkan ampun bagi orangtua harus selalu dipanjatkan baik saat mereka masih hidup maupun sudah meninggal.

Berbakti Tanpa Melanggar Syar'i
Berbakti kepada orangtua tentu saja bukan berarti mentaati perintahnya dalam segala hal. Kita tentu tidak boleh mentaatinya dalam segala hal yang menimbulkan dosa. Tidak boleh pula kita mengharapkan ridhanya dengan cara yang mengundang murka Allah. Karena ketaatan itu hanya dalam hal yang ma'ruf.


Makna, Batasan, dan Durhaka
Sebagai seorang anak, kita tidak boleh duhaka kepada kedua orangtua. Jangan sekali pun kita melihat mereka dengan pandangan yang meremehkan, atau merendahkan kedudukan mereka. Berkata kasar pun bisa disebut sebagai perilaku durhaka kepada orangtua.

Pada hakikatnya, pendurhaka adalah manusia yang paling tidak tahu balas budi dan tak mengerti arti berbakti. Padahal jasa orangtua kita begitu besar, pengorbanannya tak akan pernah bisa dihitung, serta kasih-sayang mereka yang begitu istimewa dan melimpah.

Penting untuk kita tengok, bagaimana bakti para pendahulu kita yang shalih kepada orangtuanya sehingga menyempurnakan keutamaan mereka sebagai ulama, ahli ibadah, mujahid orang yang zuhud dan orang yang taqwa.

Peristiwa yang mengesankan terjadi atas Haiwah bin Syuraih, seorang ulama terkemuka juga. Menjadi pembicara atau mubaligh handal, tidak membuat beliau gengsi untuk mentaati perintah orangtua, meskipun untuk melakukan hal-hal yang remeh, asal bukan untuk bermaksiat. Suatu ketika, beliau sedang membawakan pengajian di hadapan orang-orang. Tiba-tiba saja ibunya datang dan berkata, "Wahai Haiwah, berdirilah sejenak, berilah makan untuk ayam kita!" Beliau pun memohon ijin kepada hadirin untuk menunaikan perintah sang ibu.

Begitulah cara berbakti dan memuliakan orangtua.

Akhir kata, marilah kita muliakan orang tua dan merawat mereka hingga akhir hayat.

 Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

tag: CARA BERBAKTI DAN MEMULIAKAN ORANG TUA

Saturday, 3 December 2016

Upaya Menentramkan Batin Dengan Berdzikir


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Melalui tulisan ini aku ingin berpesan, khususnya pada diriku sendiri dan juga kepada kalian yang akhirnya sempat untuk membaca tulisan ini, untuk terus meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dengan meningkatkan amal ibadah kita sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah SWT, dan menjauhi segala larangannya.

Mungkin sedikit berbeda dengan tulisan-tulisanku yang sebelumnya. Aku sepertinya memang kadang harus lebih sering menuliskan tentang hal yang memotivasi diri, dibandingkan mengurusi keresahaan yang tak kunjung usai.

Aku adalah manusia, begitu pula denganmu, dan kita hanyalah manusia biasa baik jasmani maupun rohani. Entah kenapa Tuhan menciptakan hati ini dengan perasaan yang bisa berubah-ubah. Dalam artian tidak selamanya merasa senang, gembira, dan bahagia, melainkan kadang merasa cemas, kadang juga sedih, gundah-gulana lalu apa lagi? 

Sebagai manusia biasa jelas kita memiliki iman yang berubah-ubah pula. Kadang iman kita sedang begitu besarnya, sehingga ibadah kita menjadi sangat baik. Ada pula terkadang malah imannya tipis, yang kemudian berkembang menjadi putus asa. 

Aku tentu pernah merasa sedih, was-was ataupun gundah gulana. Ada perasaan yang menghantui, menakut-nakuti hingga terasa seakan-akan membunuhku secara psikologis. Saat itu mungkin imanku sedang tipi, aku sedang lupa bahwa selalu ada tempat untuk mencurahkan isi hati. Dimana? Tentu saja dihadapan Allah SWT dengan berdzikir.


Hati yang tenteram adalah kebahagian sejati. Hati yang tenteram bersumber dari keyakinan hati akan keselamatan dunia dan akhirat. Tidak akan ada ketakutan dalam diri ini, tidak pula akan ada perasaan sedih dihati. Keyakinan ini benar-benar akan kita dapatkan jika hati selalu dekat dengan Allah.

"Yang akan mendapat hidayah Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram" - QS. Ar-Ra'du [13] : 28

Bukankah hati kita akan selalu diberikan nikmat yang begitu besar dan condong ke hadirat Allah, merasakan sakinah (kedamaian) ketika ridla kepada-Nya sebagai satu-satunya yang memberi perlindungan juga penolong.

Namun, kita atau bahkan diriku malah sempat keliru besar karena berharap kebahagiaan dari sebuah hiburan, hobi, wisata, dan bersenang-senang. Padahal semua hal itu hanya menyisakan kelelahan hati dan mengakibatkan kegelisahan yang tak pernah bertepi.

Sesungguhnya berdzikir kepada Allah adalah suatu kebutuhan, karena berdzikir merupakan suatu penghubung antara makhluq dan Khaliqnya. Selama manusia berdzikir, selama itu pula manusia itu berhubungan dengan Sang Pencipta. Sebaliknya, jika meninggalkan dzikir, berarti melepaskan diri dalam berhubungan dengan Penciptanya. Jika sudah terlanjur lepas, kita sebagai manusia biasa akan lebih mudah untuk didekati oleh syetan, dirusak keimanannya melalu godaan-godaan mautnya.

Ketika suatu insan  beriman menghadapi suatu problema, segeralah ingat kepada Allah, lepaskan diri dari lingkatan syetan. Selalu ingatlah kepada Allah, ingat akan petunjuk-petunjukNya, ingat akan perintahnya, dan ingat solusi yang diberikan Allah.

"Orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram"

Satu-satu nya hal yang paling ampuh untuk meneduhkan hati adalah melalui dzikir. Tidak ada satupun yang mampu lebik indah untuk dinikmati oleh hati, selain dari mencintai Sang Penciptanya. Sebagai seseorang yang beriman, aku merasa begitu tenteram dengan berdzikir. Aku merasa hilang dari kegalauan dan kegelisahan, yang ada hanya kebahagiaan dan kenikmatan.


Jumat kemarin, bukankah Aksi Super Damai 212, terasa begitu tenteram dan damai, dikarenakan semuanya terjadi atas izin Allah SWT. Ratusan ribu orang yang ada di sekitar Monas pun dengan khidmat berdzikir meminta perlindungan kepada Allah untuk bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Adapun beberapa hal yang akan diperoleh melalui dzikir ini, antara lain:

1. Sebagai pertanda ketaatan seorang mu'min kepada Allah, karena dzikir memang diperintah oleh-Nya.

2. Orang yang berdzikir akan memperoleh ampunan yang besar dan pahala yang tiada terhingga.

3. Orang yang berdzikir senantiasa akan diingat oleh Allah SWT.

4. Sebagai ciri Ulul Albab (Cerdas Cendekia).

5. Dzikir merupakan senjata taubat.

6. Dengan dzikir orang akan meraih kesuksesan dan keberuntungan.

Demikianlah sedikit kata yang bisa aku tuliskan mengenai upaya menentramkan batin dengan berdzikir. Semoga Aksi Super Damai 212 yang diisi dengan dzikir dan shalawat bersama dapat meningkatkan iman dan taqwa, serta rasa nasionalisme terhadap seluruh umat muslim di seluruh Indonesia.

Akhir kata, semoga kita semua selalu senantiasa ingat kepada Allah SWT, agar kita selalu dalam lindungan-Nya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Wednesday, 30 November 2016

Mengungkit Kembali Masalah Korupsi di Indonesia


Aku sudah cukup lama mengenal mereka. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) hampir selalu terdengar dari berita telivisi di rumahku. Bahkan aku merasa kalau media-media di Indonesia ini, selalu menjadikan masalah korupsi ini menjadi berita utama (headline).

Pejabat negara yang harusnya memiliki reputasi integritas tinggi malah terlibat kasus oleh skandal korupsi. Integritas itu secara harfiah artinya bersatunya antara ucapan dan perbuatan. Para pejabat harusnya mampu MEMBERIKAN KETELADANAN pada masyarakat, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Aku mungkin tidak begitu mengerti mengenai kerangka historis korupsi di Indonesia. Apa benar korupsi ini memang sudah memiliki akarnya di masyarakat tradisional pra-kolonial, zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang atau mungkin pemerintah Indonesia yang merdeka berikutnya.


Orde Baru
Aku sendiri tidak begitu tau seperti apa hebatnya pertumbuhan ekonomi, yang cepat dan berkelanjutan pada rezim Orde Baru Presiden Suharto (1965-1998). Banyak orang bilang perkembangan ekonomi itu memang begitu mengesankan pada rezim itu, namun kemudian barulah kita ketahui sisi negatif mengenai pemerintahan yang korup.

Satu hal yang aku mengerti adalah Bapakku kehilangan pekerjaan saat krisis moneter tahun 1998. Kami sekeluarga akhirnya pulang ke kampung halaman pada akhir pemerintahan orde baru. Kau tau ada begitu besar kekhawatiran masyarakat kita saat itu. Para pengusaha lokal akhirnya bangkrut karena biaya produksi meningkat, namun hasil produksi tidak memenuhi target. Akhirnya para pengusaha itu pulang ke daerah untuk memberikan rasa nyaman pada keluarganya.

Saat itu aku memang masih kanak-kanak. Kini, setelah dewasa aku tidak tau mengapa begitu banyak perusahaan asing yang menguasai negeri ini. Aku harus bertanya pada siapa mengenai negeri ini? Alangkah lucunya hari ini, ketika seorang pribumi malah jadi kuli di negara sendiri. Semua terjadi berawal dariketamakan oknum-oknum jahat pemerintah.

Kemudian, dengan era baru Reformasi, yang dimulai setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998, situasi ini akhirnya berubah.



Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Negara kita tercinta, Indonesia sejak tahun 2000 tidak lagi menjadi "Negara Berdaulat" secara ekonomi dan sosial, karena semua "kendaraan" (kekayaan alam, lahan, dan industri) telah dikuasai dan dijual kepada pihak asing. Negara-negara lain memajukan ekonomi untuk membesarkan bangsa sendiri, kita malah membesarkan pihak asing, dan malah bukan menjadikan bangsa ini menjadi joki di negeri sendiri.

Kasus tindak pidana korupsi saat ini masih menjamur di Indonesia. Korupsi ini karena ketamakan. Rasa tidak pernah cukup, selalu kurang, kurang dan kurang. Dan, konaah ini mengajarkan kita untuk merasa cukup. Apakah sebagai seorang pejabat, kau tak mampu untuk qona'ah? (Qana'ah = sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidakpuas dan perasaan kurang.)

Menyadari kebutuhan mendesak untuk mengatasi korupsi yang selalu merugikan investasi, dan umumnya mendorong adanya ketidakadilan terus-menerus dalam masyarakat, sebuah badan pemerintah baru didirikan pada tahun 2003. Lembaga pemerintah ini adaaj Komisi Pemberantasan Korupsi (disingkat KPK). KPK memiliki tugas untuk membebaskan Indonesia dari korupsi dengan menyelidiki dan mengusut kasus-kasus korupsi serta memantau tata kelola negara (yang menerima kekuasaan yang luas).

Bagiku KPK adalah pahlawan negeri ini. Keberanian KPK ini telah memicu perlawanan terhadap sebagian besar dari orang-orang yang pernah diusut atau diinterogasi. Mereka kemudian memunculkan banyak fitnah dan mengklaim bahwa KPK sendiri adalah lembaga yang korup. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah skandal telah muncul di mana anggota KPK, konon, dijebak oleh petugas polisi senior dan ditangkap untuk melemahkan kewenangan KPK. Tentu saja berita ini sudah sering kau dengar bukan? Masih ingat bapak Antasari Azhar? (baca: Kehebatan Bapak Antasari)


Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)
Presiden Yudhoyono adalah seseorang yang memprofilkan dirinya sebagai orang yang mengabdi dan bertekad mengatasi korupsi di Indonesia, khususnya mengenai korupsi di kalangan pemerintah. Tentu saja hal ini membuatku, dan seluruh rakyat Indonesia mendukung segala kebijakan beliau. Salah satu keberhasilannya adalah masuknya Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia dari tahun 2005 sampai tahun 2010. Ibu Sri ditugasi untuk mereformasi kantor pajak dan bea cukai yang korup di Indonesia. Dia cukup sukses dan bisa mengandalkan dukungan dari banyak orang Indonesia. Tetapi kinerjanya juga menciptakan musuh. Bukankah kau pasti tau namanya ikut ternodai dalam kasus skandal Bank Century.

Sungguh sayang sekali bukan, menjelang akhir masa jabatannya yang kedua bapak SBY diserang cukup banyak kasus korupsi. Apalagi kasus korupsi ini menyangkut pada partai yang dipimpin oleh beliau, Partai Demokrat. Hal ini sangat merusak reputasi Partai Demokrat maupun Bapak SBY sendiri. Dalam dua tahun terakhir kepresidenannya Yudhoyono, Menteri Pemuda & Olahraga (Andi Mallarangeng) dan Menteri Agama (Suryadharma Ali) mengundurkan diri setelah menjadi tersangka dalam kasus korupsi.


Pemerintahan Joko Widodo
Sama seperti halnya presiden sebelumnya, bapak Jokowi juga menyerukan dirinya untuk bertempur melawan korupsi di negara ini. Tapi apa yang sedang terjadi dengan kasus Sumber Waras? Apakah diungkit kembali? Aku merasa akhir-akhir ini, media malah lebih sering memberikan informasi mengenai isu demonstrasi mengenai penistaan agama. Aku tidak tau harus menulis apa pada bagian ini. Karena masa jabatan beliau sekarang ini masih berjalan.

Aku yakin semua presiden di Indonesia, memliki maksud baik untuk negara dan rakyatnya. Mereka semua memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mensejahterakan bangsa Indonesia. Namun, ada begitu banyak oknum-oknum jahat yang ternyata mungkin menguasai negeri kita. Sehingga, untuk seorang presiden pun harus berhati-hati dalam mengambil sikap. Beban yang diberikan sebagai seorang pemimpin sungguh sangat berat, salah satunya adalah memerangi para pelaku korupsi.

Maafkan aku jika ternyata postingan ini mengungkit kembali masalah korupsi di Indonesia. Jujur, baru kali ini saya berani untuk sedikit berbicara politik. Mungkin suatu saat saya akan membuat surat terbuka untuk presiden Jokowi agar lebih baik dalam menangi kasus korupsi yang merajalela di Indonesia.


Ingalah hal ini!
"Dengan korupsi, prestasi menjadi tidak berarti. - Hanung Manggara"


Terinspirasi dari Status Hanung Manggara di Facebook.
Image: Google Image